Kupang, seputar-ntt.com – Pergantian musim dari kemarau ke penghujan membawa perubahan besar bagi pengguna jalan di Nusa Tenggara Timur. Jalan yang sepanjang kemarau kering dan berdebu kini mulai tergenang air di titik-titik tertentu, sementara sisa debu yang menempel di aspal berubah menjadi lapisan licin ketika hujan pertama turun. Kondisi inilah yang membuat ban kendaraan menjadi komponen yang paling perlu diperhatikan di bulan-bulan pancaroba.
Hujan yang turun setelah berhari-hari udara kering sering kali membuat permukaan jalan menjadi lebih licin dibandingkan hujan pada puncak musim penghujan. Minyak, debu, dan kotoran yang menumpuk selama kemarau terangkat oleh air hujan dan membentuk lapisan tipis di atas aspal. Pengendara yang terbiasa dengan jalan kering bisa saja terkejut ketika rem terasa kurang cekatan atau motor mulai terasa melempar saat menikung.
Tekanan ban adalah hal pertama yang perlu diperiksa. Ban yang kurang angin akan membuat kendaraan kurang stabil di jalan basah, sementara ban yang terlalu keras mengurangi cengkeraman karena bidang kontak dengan jalan menyempit. Idealnya, pengecekan tekanan dilakukan minimal dua minggu sekali, atau setiap kali ban terlihat sedikit pepeng. Untuk motor harian di NTT, pengecekan bisa dilakukan di bengkel tambal ban terdekat tanpa biaya besar, atau cukup dengan alat pengukur tekanan sederhana yang dijual di toko perlengkapan motor.
Kedalaman alur ban tidak kalah penting. Alur yang tinggal di bawah satu milimeter tidak lagi mampu mengalirkan air dari bidang kontak, sehingga ban mudah mengapung di atas genangan atau yang disebut aquaplaning. Pengendara bisa memakai cara sederhana: tempelkan koin sepuluh rupiah ke alur ban. Jika tepi koin masih terlihat banyak, artinya alur sudah terlalu dangkal dan saatnya mengganti ban. Indikator keausan di bentuk segitiga kecil pada dinding ban juga bisa dijadikan patokan.
Usia ban juga perlu diperhitungkan. Di iklim tropis seperti NTT, karet ban mengalami penuaan lebih cepat karena panas dan sinar matahari sepanjang tahun. Ban yang sudah digunakan lebih dari tiga tahun, meskipun alurnya masih tebal, bisa saja sudah mengeras dan kehilangan daya cengkeram. Kode produksi empat digit pada dinding ban menunjukkan minggu dan tahun ban dibuat, dan angka ini layak dicek terutama bagi yang membeli ban bekas atau kendaraan second.
Untuk pengguna sepeda motor yang setiap hari melintasi jalur seperti Kupang–Soe, Kupang–Ende, atau jalur lintas pulau dengan karakter jalan bervariasi, pemilihan jenis ban juga menentukan keamanan. Ban dengan alur bergaya kombinasi lebih cocok untuk jalan yang bergantian basah dan kering, dibandingkan ban slick yang memang licin di permukaan basah. Sebaliknya, ban khusus lumpur justru tidak efisien untuk pemakaian harian di jalan aspal.
Waktu mengganti ban juga sebaiknya tidak ditunda-tunda. Banyak pengendara menunda penggantian ban dengan alasan masih bisa dipakai, padahal ban tipis sangat rawan bocor dan pecah, terutama saat melindas batu di pinggir jalan kabupaten. Biaya penggantian ban jauh lebih murah dibandingkan risiko kecelakaan atau kerusakan pelek akibat ban pecah saat berkendara.
Musim pancaroba adalah pengingat bahwa perawatan kendaraan tidak boleh hanya dilakukan saat kendaraan sudah bermasalah. Ban yang masih terlihat baik bisa saja sudah kehilangan kemampuan menahan kendaraan di jalan basah. Memeriksa tekanan, kedalaman alur, dan usia ban hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi dampaknya menyelamatkan perjalanan sepanjang musim hujan di Nusa Tenggara Timur.(*)
Follow