Ruteng, seputar-ntt.com – Di lereng pegunungan Manggarai, Flores, sebuah kampung adat tua masih berdiri gagah dengan deretan rumah berbentuk kerucut yang mengelilingi lapangan batu bundar. Kampung Todo, yang berlokasi di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, merupakan salah satu kampung adat tertua di Flores dan menjadi saksi hidup tata ruang tradisional masyarakat Manggarai yang telah berumur ratusan tahun.
Todo dikenal sebagai kampung induk (demo) dalam struktur adat Manggarai. Konon, kampung ini menjadi sentral kekuasaan raja-raja Manggarai sebelum penjajahan Belanda datang. Bagi masyarakat setempat, Todo bukan sekadar permukiman, melainkan simbol identitas dan legitimasi adat yang diwariskan turun-temurun lintas generasi.
Seluruh rumah di kampung ini menghadap ke tengah, ke sebuah lapangan batu berbentuk lingkaran yang disebut lodok. Pada bagian tengah lodok berdiri bangunan utama tempat memimpin upacara adat, dikelilingi batu-batu yang menjadi penanda klairan atau altar persembahan bagi para leluhur. Tata ruang seperti ini mencerminkan filososi Manggarai yang menempatkan kebersamaan dan hubungan dengan leluhur di pusat kehidupan.
Bagi wisatawan, Todo menawarkan pengalaman yang jarang ditemui di destinasi wisata modern. Di sini pengunjung dapat berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit di antara rumah-rumah adat, menyaksikan arsitektur atap ijuk yang menjulai, serta menyimak penjelasan warga tentang makna tiap sudut kampung. Warga yang ramah umumnya bersedia bercerita, sebagian bahkan telah terbiasa menerima rombongan pelajar dan peneliti budaya.
Untuk mencapai Todo, wisatawan dapat menempuh perjalanan darat dari Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, dengan kendaraan roda dua maupun roda empat selama kurang lebih satu jam. Jalanan menuju kampung telah dapat dilalui kendaraan, meskipun sebagian ruas masih berupa jalan tanah yang bisa licin saat musim hujan. Karena itu, waktu terbaik berkunjung adalah pada musim kemarau antara bulan April hingga Oktober.
Bedding-beding nasi sesuai adat masih dijalankan warga hingga kini, termasuk saat menyambut tamu yang datang dengan niat baik. Wisatawan yang ingin menyaksikan upacara adat tertentu disarankan berkoordinasi lebih dulu dengan pengelola kampung atau dinas pariwisata setempat agar kunjungan tetap sopan dan tidak mengganggu ritual.
Seperti kampung adat lainnya di NTT, Todo menghadapi tantangan zaman: generasi muda yang merantau, pemeliharaan bangunan tua, serta tekanan pariwisata yang kurang terkelola. Pemerhati budaya mendorong agar pengembangan wisata di Todo berpihak pada warga, misalnya melalui homestay yang dikelola keluarga dan pemanduan lokal, bukan pada operator luar.
Dengan sejarah panjang, arsitektur khas, dan keramahan warganya, Kampung Todo pantas masuk daftar tujuan bagi siapa pun yang ingin memahami akar budaya Manggarai. Di tengah deru pariwisata Labuan Bajo yang ramai, kampung tua ini menawarkan ketenangan sekaligus pelajaran bahwa identitas suatu bangsa justru tumbuh dari tempat yang paling sederhana.(*)
Follow