Kupang, seputar-ntt.com – Upaya memperkuat kapasitas wirausaha muda di Nusa Tenggara Timur terus dilakukan melalui Workshop Inkubator Bisnis Pemuda NTT 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi NTT di Hotel Pelangi Kupang, Jumat (27/3/2026).
Sebanyak 50 pelaku usaha muda dari Kota Kupang dan Kabupaten Kupang mengikuti kegiatan ini dengan antusias, terutama dalam memahami strategi branding, pemasaran digital, serta pentingnya pengelolaan risiko dalam menjalankan usaha.
Sebagai narasumber utama, Dr. Deford Nasareno Lakapu, MM, CMT menekankan bahwa pelaku usaha tidak lagi bisa menjalankan bisnis secara konvensional di tengah dinamika pasar digital yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian.
Menurutnya, keberhasilan usaha tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas, tetapi juga membutuhkan kemampuan membaca risiko, menyusun strategi, serta mengambil keputusan berbasis data.
Ia menjelaskan bahwa branding harus dimaknai sebagai proses membangun nilai, kepercayaan, dan posisi produk di benak konsumen, bukan sekadar tampilan visual. Sementara itu, pemasaran digital harus dijalankan secara sistematis, mulai dari tahap awareness, engagement, hingga konversi agar mampu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata.
Pendekatan berbasis risiko, lanjutnya, harus menjadi bagian dari setiap tahapan bisnis, mulai dari menentukan target pasar, memilih platform digital, hingga mengevaluasi performa usaha secara berkala.
Kegiatan ini berlangsung dinamis dengan diskusi yang sangat interaktif dan teknis, namun tetap dalam suasana santai. Tingginya antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam setiap sesi, bahkan tanpa disadari, diskusi berkembang hingga hampir lima jam.
Selain itu, peserta juga didorong untuk membangun kolaborasi melalui pendekatan community building, sebagai strategi memperkuat daya saing dan memperluas jaringan usaha.
Pendekatan ini sejalan dengan program OCOP (One Community One Product) yang bertujuan mendorong pergeseran ekonomi masyarakat dari konsumtif menjadi produktif, sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi lokal.
Dalam implementasinya, komunitas, baik pemuda, lembaga agama, maupun kelompok masyarakat didorong untuk mengidentifikasi potensi unggulan dan mengembangkannya menjadi produk bernilai tambah.
Program ini juga terintegrasi dengan OVOP (One Village One Product) dan OSOP (One School One Product), serta diperkuat oleh NTT Mart sebagai gagasan Gubernur NTT yang diproyeksikan menjadi pusat pemasaran dan distribusi produk lokal.
Melalui integrasi tersebut, pelaku usaha diharapkan tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga mampu menjadi bagian dari ekosistem ekonomi daerah yang lebih luas dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, kegiatan ini menegaskan bahwa masa depan UMKM NTT tidak hanya ditentukan oleh kreativitas, tetapi oleh kemampuan mengelola risiko, membangun kolaborasi, dan beradaptasi dengan perubahan pasar secara strategis.(*)
Follow